blogkimia19

suro diro jayaningrat lebur dining pangastuti

FILSAFAT AIR BAH DAN TUGAS AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Alqur’an mengungkapkan posisi umat Islam sebagai par excelence (yang sangat sempurna). Kedudukan yang demikian terhormat itu harus diikuti dengan dua syarat utama yaitu menegakkan kebaikan (Al-Ma’ruf) dan mencegah merajalelanya keburukan (al-munkar). Allah berfiman dalam surat Ali Imran (3) ayat 110, berbunyi:

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar”

Kata al-ma’ruf dalam Alqur’an dibedakan dengan kata al-khair mengisyaratkan bahwa kebaikan itu ada yang umum ada pula yang hanya dikenal oleh adat masyarakat tertentu. Namun al-ma’ruf dalam ayat di atas menunjukkan kebaikan yang sudah dikenal masyarakat umum, juga yang hanya dikenal masyarakat khusus, seperti shalat dan zakat, cukup ma’ruf di kalangan umat Islam, sedang keadilan, sosial kemasyarakatan, tolong menolong dan lain-lain ma’ruf di kalangan umat beragama manapun. Demikian pula kata al-munkar dibedakan dalam Alqur’an dengan kata al-fakhsya’ (الفحشاء) mengisyaratkan adanya dosa-dosa berdampak negatif meluas dan dosa-dosa berdampak negatif sempit (tidak meluas). Para mufassir membedakannya dengan dosa-dosa besar dan dosa kecil “الفحشاء والمنكر”.

Terlepas dari sebuah tindakan, perbuatan maupun ucapan masuk dosa besar atau dosa kecil, yang jelas bahwa untuk mewujudkan terbentuknya masyarakat terbaik (par exelence) yang harus diberantas, dibendung adalah bukan hanya dosa besar, tetapi juga dosa kecil. Hal ini memberikan pengertian bahwa orang yang telah berani melakukan dosa besar akan membuat berani melakukan dosa kecil dan kebiasaan melakukan dosa kecil akan makin berani melakukan dosa besar. Nabi pernah mengingatkan kepada kita semua dengan pesannya: “Janganlah sekali-kali anda menganggap remeh dosa kecil. Sebab anda tidak tahu dari dosa mana yang menyebabkan murka Allah turun”.

Persoalan bangsa ini sudah dihadapkan bukan lagi untuk memberantas dosa kecil, tetapi hingga dosa besar pun sangat berani dilakukan karena lemahnya penegakan dosa kecil yang telah mengakumulasi menjadi dosa-dosa besar. Perbuatan-perbuatan dosa besar sudah sampai pada tingkat berani terang-terangan, berani tawar menawar dan sudah menjadi jaringan kokoh.

Lihat saja perlindungan-perlindungan oknum aparat terhadap tempat-tempat maksiat, prostitusi, suap-kolusi, korupsi di tingkat elit sangat kebal dan terlindungi. Sedang yang kecil-kecil yang tidak memiliki daya tawar itu saja yang diberantas. Itupun musiman, tidak konsisten dan kontinuitas. Akhirnya menjalar ke tiap generasi di bumi pertiwi negeri ini, yang kita rasakan sekarang adalah bila ada yang bicara moral, bukan didukung atau diiyakan, tetapi dikecam habis-habisan, diberi predikat show moralis dan lain-lain. Sebaliknya terhadap moralnya kemunkaran, semua orang merasa ciut karena tidak memiliki kekuatan apa-apa dan tidak berdaya.

Kita sebenarnya punya aparat kuat, tapi apanya yang kuat, jumlahnya, senjatanya atau imannya atau yang kuat adalah keberpihakannya. Lihat saja bagaimana tidak kuat untuk pengamanan sidang seorang Amrozi yang jangan-jangan tangan-tangan zionis beragama Islam biaya yang disiapkan negara tidak kurang dari 3 milyar. Bukan negeri kaya, jika tidak dengan biaya besar. Tetapi untuk merawat keimanan bangsa yang terpuruk moralnya cukup antara 15-20 ribu rupiah saja. Itulah nasib pa’ ustadz kampung yang hanya berhak makan dedak. Apakah ini gambaran negeri yang serius merawat iman bangsa – Bandingkan biaya sekolah-sekolah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah negeri apalagi swasta dengan sekolah-sekolah bermerk. Ini bukanlah keluhan, tetapi ini realitas negeri yang rakyatnya terkesan numpang hidup di negerinya sendiri. Kita ini bangsa yang beradab untuk bangsa lain atau beradab untuk bangsa sendiri atau untuk keduanya.

Harap kita tahu bahwa par exelence tidak akan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi al-munkar kecuali secara profesional dan bersinergi dengan profesi-profesi lain. Ambil contoh tugas amar ma’ruf oleh ulama dan yang sejenisnya, dan tugas nahi al-munkar oleh umaro dengan aparatnya. Jangan sekali-kali bertabrakan, tetapi harus berbagi tugas dan bersinergi.

Cita-cita membangun good gaverment hanya omong kosong kalau segala kemunkaran ditutup-tutupi, dilindungi bahkan digolongkan sebagai lahan subur membiayai negara dan bangsa. Bukankah yang haram apalagi dimakan akan menjadi noda cermin yang lama kelamaan menjadi tidak memantulkan cahaya dan akan menjadi gelap mata, padahal yang gelap adalah hati. Gambaran manusia yang gelap kebenaran dan memuja kemunkaran diungkap Alqur’an dalam surat Thaha (20) ayat 125 dan 126 berbunyi:

قال رب لم حشرتنى أعمى وقد كنت بصيرا
“Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku
dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah orang yang melihat?”

قال كذلك أتتك ءايتنا فنسيتها وكذلك اليوم تنسى
“Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami,
maka kamu melupkannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupkan”

Harus diingat pula bahwa kepekaan beragama tidak cukup jika seseorang telah melaksanakan kebaikan, kecuali bila seseorang melaksanakan tugas nahi al-munkar sekaligus.

Kondisi keburukan bahkan kebrutalan beragama telah demikian merajalela di tiap-tiap lembaga, rumah tangga, lingkungan tinggal, terminal-terminal, bahkan dunia pendidikan. Hampir-hampir tidak ada ruang kosong yang belum dicemari oleh derasnya arus global yang membisukan dicegahnya kemunkaran. Karena itu mengatasinya kembali “Bila anda tinggal dipinggir bantaran sungai jangan berpikir bagaimana mengurug sungai itu, tetapi ajari anak-anakmu berenang, agar bila terjadi banjir anda tidak hanyut konyol”.

Itu berarti kita hidup di era penuh gangguan keimanan tiap orang harus dipersiapkan untuk menghadapinya dengan kekuatan iman yang imun. Karena membendung derasnya mode, gaya hidup yang penuh glamor sama besar dan beratnya dengan mengurug derasnya air bah. Persoalan kita adalah persoalan kalah cepat antara derasnya air bah mengalir dengan mengajari anak-anak renang. Kita tidak akan pernah mampu membendung derasnya budaya masuk lewat dinding-dinding rumah seperti halnya kita tidak bisa membendung derasnya air bah di sungai. Masing-masing orang haruslah dipersiapkan untuk menghadapi zaman yang bukan zamannya.

Demikian Ali RA berkata:

علموا اولادكم فإنهم مخلوقون لزمن غير زمانكم
“Ajarilah anak-anakmu, karena mereka adalah makhluk yang diciptakan
untuk masa yang berbeda dengan masamu.”

Ungkapan di atas jelas-jelas mengisyaratkan bahwa setiap era (zaman) memiliki karakter yang berbeda yang harus selalu dipersiapkan oleh kita agar umat mampu menghadapinya sehingga tidak larut dan hanyut di terjang gelombang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: