blogkimia19

suro diro jayaningrat lebur dining pangastuti

Puasa, Sujud, dan Derajat Manusia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, bulan puasa berulang datang, memberi penggal waktu untuk jeda. Ibarat musim gugur memberi pepohonan kesempatan meranggas dan memudakan diri. Dedaunan jatuh pun luluh simpuh, gugur-tafakur, pulang ke akar, menjadi pupuk kehidupan.

Tradisi puasa seumur usia keagamaan. Saat panggilannya tiba, pedang disarungkan, api dendam diredupkan, ambisi kuasa diredam; memberi sela bagi salam perdamaian. Di dalam jeda, mata hati yang tertutup awan dendam, pongah kuasa, dan gelap kesadaran menemukan berkas sinar.

Puasa meninggikan kembali derajat manusia melampaui nilai kebendaan-kekuasaan. Bahwa nafsu menimbun harta, memperluas pengaruh, dan eksploitasi pengetahuan telah melalaikan manusia hingga membiarkan dirinya menjadi sekadar faktor produksi, budak kekuasaan, dan alat percobaan.

Dalam gravitasi syahwati ini, kehadiran agama yang mestinya pengemban misi keadilan, cinta kasih, dan kewarasan justru secara tragis menjadi pentasbih misi penindasan, penghancuran, dan pembodohan.

Di manakah berkah agama jika risalahnya sekadar konsumsi “go yang lidah” yang kedalamannya sebatas tenggorakan? Di manakah misi penyempurnaan akhlak jika agama hanya dijadikan kemasan pemasaran, pangkal pertikaian, dan dalih kekuasaan? Bukankah suatu ironi yang memilukan bahwa aktor utama dari “komedi omong” ini justru para pemuka agama sendiri? Di masa sulit ketika orang kecil menjerit, pemuka agama “menjual” ayat untuk menidurkan keresahan lantas memberi teladan akhlak dengan pamer kemewahan.

Agama pun tak henti dijadikan sengketa interpretasi dalam persaingan pendakuan kebenaran, sebagai mesiu dalam perebutan kuasa. Bahkan, mereka yang terlibat dalam pemberdayaan masyarakat pun hanyut dalam godaan kekuasaan. Bukan untuk memperbaiki keadaan, melainkan berhenti pada rebutan sumber daya kuasa.

Sedemikian rupa sehingga kita tak sempat menyaksikan perwujudan lain dari gairah keagamaan selain dari sekadar “budak nafsu”. Jika agama sebagai landasan kritik terhadap berhala dan korupsi kebendaan, kekuasaan, dan pengetahuan telah menjadi fosil; sementara orang kebanyakan belum menemukan sumber moralitas lain di luar itu, bagaimana bisa yakin bahwa segala percobaan reformasi politik bisa menuju husnulkhatimah.

Tengoklah demonstrasi demi demonstrasi, kerusuhan demi kerusuhan, diskusi demi diskusi, persidangan demi persidangan, penggulingan demi penggulingan. Semuanya berakhir sebagai “komedi omong”.

Elite politik lebih mengedepankan syahwat kepentingannya ketimbang kemaslahatan umum. Akrobat demi akrobat politik yang dipertunjukkan penguasa semakin jelas menunjukkan kebangkrutan moral kepemimpinan.

Sejarah bertubi-tubi menunjukkan, bilamana pusat pemerintahan sebagai pusat teladan tak bisa lagi dipercaya, kerusuhan dan gerakan-gerakan apokaliptik di wilayah pinggiran akan segera meledak.

Kebangkrutan moral ini terasa pilu justru berlangsung di tengah masyarakat religius. Bukankah misi sentral kenabian adalah penyempurnaan akhlak? Ketikqa sebagian besar masyarakat masih memandang agama sebagai sumber moralitasnya, namun kandungan moralitas agama itu sendiri telah menguap dari kepompongnya, pada saat itu masyarakat menjelma menjadi zombie.

Jeda Ramadhan memberi momen refleksi diri, memulihkan tenaga rohani untuk membakar benalu yang mengerdilkan moralitas agama. Ramadhan memberi kesadaran bahwa hasrat menimbun, berkuasa, dan berpengaruh tak pernah ada puasanya kecuali dengan puasa.

Pengendalian dirilah akar tunjang pengendalian sosial. Adapun ibadah puasa bak kawah candradimuka pelatihan kendali diri.

Sekiranya semua warga mampu berpuasa sungguhan, gumpalan lemak yang berlebih di satu kelompok bisa disalurkan menjadi energi hidup bagi kelompok lain, tidak menjadi kolesterol keserakahan yang memicu kelumpuhan sosial.

Seperti dedaunan yang jatuh di musim gugur bisa memupuk rerumputan di bawah dan sekelilingnya. Sesekali kita pun perlu meranggas; membiarkan keakuan terbakar, tersungkur sujud; menginsafi kefanaan yang menerbitkan hasrat untuk berbagi, membuka diri penuh cinta untuk yang lain.

KODE ETIK GURU

PEMBUKAAN

Dengan rahmat Tuhan yang Maha Esa guru Indonesia menyadari bahwa
jabatan guru adalah suatu profesi yang terhormat dan mulia. Guru mengabdikan
diri dan berbakti untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan
kualitas manusia Indonesia yang bermain, bertakwa dan berakhlak mulia serta
mengusai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam mewujudkan masyarakat
yang maju, adil, makmur, dan beradab. Baca lebih lanjut

KISI KISI UN 2015

UNTUK MELIHAT KISI KISI UN 2015 DAPAT DI UNDUH DAN DILIHAT DI SINI

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?ui=2&ik=b70e8ba5f2&view=att&th=14b9b6f3b05b3dc6&attid=0.1&disp=safe&realattid=f_i6acuwm00&zw&saduie=AG9B_P9xHuaCJbHuObPaRdOkCrQ5&sadet=1424701451878&sads=oY6IHB4qDNr-tQDDQkcMvj9UVY8

FILSAFAT AIR BAH DAN TUGAS AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Alqur’an mengungkapkan posisi umat Islam sebagai par excelence (yang sangat sempurna). Kedudukan yang demikian terhormat itu harus diikuti dengan dua syarat utama yaitu menegakkan kebaikan (Al-Ma’ruf) dan mencegah merajalelanya keburukan (al-munkar). Allah berfiman dalam surat Ali Imran (3) ayat 110, berbunyi:

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar”

Kata al-ma’ruf dalam Alqur’an dibedakan dengan kata al-khair mengisyaratkan bahwa kebaikan itu ada yang umum ada pula yang hanya dikenal oleh adat masyarakat tertentu. Namun al-ma’ruf dalam ayat di atas menunjukkan kebaikan yang sudah dikenal masyarakat umum, juga yang hanya dikenal masyarakat khusus, seperti shalat dan zakat, cukup ma’ruf di kalangan umat Islam, sedang keadilan, sosial kemasyarakatan, tolong menolong dan lain-lain ma’ruf di kalangan umat beragama manapun. Demikian pula kata al-munkar dibedakan dalam Alqur’an dengan kata al-fakhsya’ (الفحشاء) mengisyaratkan adanya dosa-dosa berdampak negatif meluas dan dosa-dosa berdampak negatif sempit (tidak meluas). Para mufassir membedakannya dengan dosa-dosa besar dan dosa kecil “الفحشاء والمنكر”.

Terlepas dari sebuah tindakan, perbuatan maupun ucapan masuk dosa besar atau dosa kecil, yang jelas bahwa untuk mewujudkan terbentuknya masyarakat terbaik (par exelence) yang harus diberantas, dibendung adalah bukan hanya dosa besar, tetapi juga dosa kecil. Hal ini memberikan pengertian bahwa orang yang telah berani melakukan dosa besar akan membuat berani melakukan dosa kecil dan kebiasaan melakukan dosa kecil akan makin berani melakukan dosa besar. Nabi pernah mengingatkan kepada kita semua dengan pesannya: “Janganlah sekali-kali anda menganggap remeh dosa kecil. Sebab anda tidak tahu dari dosa mana yang menyebabkan murka Allah turun”.

Persoalan bangsa ini sudah dihadapkan bukan lagi untuk memberantas dosa kecil, tetapi hingga dosa besar pun sangat berani dilakukan karena lemahnya penegakan dosa kecil yang telah mengakumulasi menjadi dosa-dosa besar. Perbuatan-perbuatan dosa besar sudah sampai pada tingkat berani terang-terangan, berani tawar menawar dan sudah menjadi jaringan kokoh.

Lihat saja perlindungan-perlindungan oknum aparat terhadap tempat-tempat maksiat, prostitusi, suap-kolusi, korupsi di tingkat elit sangat kebal dan terlindungi. Sedang yang kecil-kecil yang tidak memiliki daya tawar itu saja yang diberantas. Itupun musiman, tidak konsisten dan kontinuitas. Akhirnya menjalar ke tiap generasi di bumi pertiwi negeri ini, yang kita rasakan sekarang adalah bila ada yang bicara moral, bukan didukung atau diiyakan, tetapi dikecam habis-habisan, diberi predikat show moralis dan lain-lain. Sebaliknya terhadap moralnya kemunkaran, semua orang merasa ciut karena tidak memiliki kekuatan apa-apa dan tidak berdaya.

Kita sebenarnya punya aparat kuat, tapi apanya yang kuat, jumlahnya, senjatanya atau imannya atau yang kuat adalah keberpihakannya. Lihat saja bagaimana tidak kuat untuk pengamanan sidang seorang Amrozi yang jangan-jangan tangan-tangan zionis beragama Islam biaya yang disiapkan negara tidak kurang dari 3 milyar. Bukan negeri kaya, jika tidak dengan biaya besar. Tetapi untuk merawat keimanan bangsa yang terpuruk moralnya cukup antara 15-20 ribu rupiah saja. Itulah nasib pa’ ustadz kampung yang hanya berhak makan dedak. Apakah ini gambaran negeri yang serius merawat iman bangsa – Bandingkan biaya sekolah-sekolah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah negeri apalagi swasta dengan sekolah-sekolah bermerk. Ini bukanlah keluhan, tetapi ini realitas negeri yang rakyatnya terkesan numpang hidup di negerinya sendiri. Kita ini bangsa yang beradab untuk bangsa lain atau beradab untuk bangsa sendiri atau untuk keduanya.

Harap kita tahu bahwa par exelence tidak akan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi al-munkar kecuali secara profesional dan bersinergi dengan profesi-profesi lain. Ambil contoh tugas amar ma’ruf oleh ulama dan yang sejenisnya, dan tugas nahi al-munkar oleh umaro dengan aparatnya. Jangan sekali-kali bertabrakan, tetapi harus berbagi tugas dan bersinergi.

Cita-cita membangun good gaverment hanya omong kosong kalau segala kemunkaran ditutup-tutupi, dilindungi bahkan digolongkan sebagai lahan subur membiayai negara dan bangsa. Bukankah yang haram apalagi dimakan akan menjadi noda cermin yang lama kelamaan menjadi tidak memantulkan cahaya dan akan menjadi gelap mata, padahal yang gelap adalah hati. Gambaran manusia yang gelap kebenaran dan memuja kemunkaran diungkap Alqur’an dalam surat Thaha (20) ayat 125 dan 126 berbunyi:

قال رب لم حشرتنى أعمى وقد كنت بصيرا
“Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku
dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah orang yang melihat?”

قال كذلك أتتك ءايتنا فنسيتها وكذلك اليوم تنسى
“Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami,
maka kamu melupkannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupkan”

Harus diingat pula bahwa kepekaan beragama tidak cukup jika seseorang telah melaksanakan kebaikan, kecuali bila seseorang melaksanakan tugas nahi al-munkar sekaligus.

Kondisi keburukan bahkan kebrutalan beragama telah demikian merajalela di tiap-tiap lembaga, rumah tangga, lingkungan tinggal, terminal-terminal, bahkan dunia pendidikan. Hampir-hampir tidak ada ruang kosong yang belum dicemari oleh derasnya arus global yang membisukan dicegahnya kemunkaran. Karena itu mengatasinya kembali “Bila anda tinggal dipinggir bantaran sungai jangan berpikir bagaimana mengurug sungai itu, tetapi ajari anak-anakmu berenang, agar bila terjadi banjir anda tidak hanyut konyol”.

Itu berarti kita hidup di era penuh gangguan keimanan tiap orang harus dipersiapkan untuk menghadapinya dengan kekuatan iman yang imun. Karena membendung derasnya mode, gaya hidup yang penuh glamor sama besar dan beratnya dengan mengurug derasnya air bah. Persoalan kita adalah persoalan kalah cepat antara derasnya air bah mengalir dengan mengajari anak-anak renang. Kita tidak akan pernah mampu membendung derasnya budaya masuk lewat dinding-dinding rumah seperti halnya kita tidak bisa membendung derasnya air bah di sungai. Masing-masing orang haruslah dipersiapkan untuk menghadapi zaman yang bukan zamannya.

Demikian Ali RA berkata:

علموا اولادكم فإنهم مخلوقون لزمن غير زمانكم
“Ajarilah anak-anakmu, karena mereka adalah makhluk yang diciptakan
untuk masa yang berbeda dengan masamu.”

Ungkapan di atas jelas-jelas mengisyaratkan bahwa setiap era (zaman) memiliki karakter yang berbeda yang harus selalu dipersiapkan oleh kita agar umat mampu menghadapinya sehingga tidak larut dan hanyut di terjang gelombang.

PEMBAHASAN SOAL UN 2011/2012

PEMBAHASAN SOAL UN 2011/2012

Berikut ini adalah kumpulan arsip soal asli UN Kimia SMA 2012 yang bisa didownload PEMBAHASAN Soal-soal UN Kimia SMA 2012 ini bisa diunduh dengan mengklik link download yang ada di ATAS,

TAUTAN NASKAH UN 2011/2012

TAUTAN NASKAH UN 2011/2012

UNTUK Latihan soal UN tahun 2011/2012 silakan di download link tersebut

 

Kompetensi Guru

Kompetensi Guru – Berdasarkan Permendiknas No. 16 Tahun 2007, guru harus memiliki empat kompentensi, antara lain:

1. Kompetensi Pedagogik
• Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, cultural, emosional, dan intelektual
• Menguasai teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik.
• Mengembangkan kurikulum yang terkait mata pelajaran yang diampu
• Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
• Memanfaatkan TIK untuk kepentingan pembelajaran.
• Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik.
• Berkomunikasi efektif, empatik, dan santun ke peserta didik.
• Menyelenggarakan penilaian evaluasi proses dan hasil belajar.
Baca lebih lanjut

KELUARGA SAKINAH

KELUARGA SAKINAH

 Setiap orang yang berumah tangga siapapun orangnya pasti menginginkan rumah tangganya menjadi keluar­ga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Inilah inti do’a yang diaminkan segenap undangan ketika juru do’a me­mimpin do’anya pada setiap walimatul ‘ursy (saat pesta perkawinan). Keluarga sakinah me­rupakan langkah awal untuk menyongsong kehidupan abadi, yaitu kehidupan surgawi di akhirat yang sakinah, hanya disedia­kan untuk orang-orang yang berjiwa sakinah dan hidup dengan sakinah.
Baca lebih lanjut

DETIK-DETIK MENUNGGU KELULUSAN

Pelaksanaan Ujian Nasional Tahun pelajaran 2012/2013  sudah selesai. Kegiatan tahunan untuk mengevaluasi hasil pendidikan tersebut, secara umum berjalan lancar. Walaupun sempat terjadi ketidaklancaran dalam hal distribusi naskah UN SMA/MA sederajat di Wilayah Indonesia Tengah, namun belum ada laporan bahwa dari sisi kualitas hasil UN itu menurun.

Pengumuman Kelulusan Ujian Nasional 2013 yang dijadwalkan Pemerintah tidak ada yang berubah. Jadwal Pengumuman Ujian Nasional untuk tingkat SMA/MA/SMK/sederajat tetap tanggal 24 Mei 2013. Pengumuman UN SMP/MTs sederajat juga tetap 1 Juni 2013. Pengumuman UN SD/MI sederajat akan digelar paling lambat 8 Juni 2013.
Berikut kami sampaikan Jadwal Ujian dan Jadwal Pengumuman hasil Kelulusan UN 2013, selamat menyimak!

Jadwal Pengumuman

No.

Jenjang

Jadwal Pengumuman

1

SMA/MA/SMK 24 Mei 2013

2

SMP/MTs 1 Juni 2013

3

SD/MI 8 Juni 2013

4

Program Paket

Pihak panitia UN Pusat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menegaskan, pihaknya menjamin penundaan Ujian Nasional (UN) 2013 di 11 provinsi tidak berpengaruh pada jadwal pengumuman hasil UN.

Kami berharap aga Siswa Siswi khususn nya SMAN 19 Kab Tangerang senantiasa berdo’a agar dapat lulus 100%. dan kami berharap semoga pengumuman kelulusan tahun ini tidak disertai dengan aksi cora-coret maupun konvoi di jalanan.

Khusus untuk Siswa SMAN 19 Kab Tangerang Insya Alloh Pengumuman akan dilaksanakana pukul 10.00 WIB, oleh karena itu dimohon untuk dapat berkumpul pada pukul 09. 30 dengan mengenakan pakainan Batik bebas
Demikian  Info Pengumuman HASIL UJIAN NASIONAL kami sampaikan, semoga bermanfaat! Amin Ya Rabbal Alamin!

POS UN 2013

Kemendikbud berkomitmen, bagaimanapun caranya, kualitas unas, khususnya SMA, tahun ini harus ditingkatkan. Mendikbud Mohammad Nuh mengatakan, peningkatan kualitas unas itu harus dilakukan karena unas menjadi salah satu acuan penerimaan calon mahasiswa baru melalui SNM PTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri) jalur undangan.
Sebagaimana diketahui, tahun depan kuota SNM PTN jalur undangan ditingkatkan menjadi 50 persen dari total kursi mahasiswa baru.
Pada kesempatan yang baik ini saya akan berbagi “POS Ujian Nasional 2013”. SILAKAN KLIK DISINI UNTUK POS UN 2013
Sedangkan Untuk Permen tentang Kriteria Kelulusan dapat dilihat
KLIK DISINI

%d blogger menyukai ini: